ags_sam@yahoo.com +62 87851187118
Uncategorized
Indonesia sebagai Penghasil Kopi Spesial Terbanyak di Dunia
May 24, 2017
0

Tim Ekspedisi Kopi Miko berkunjung ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember. Dengan mengendarai sepeda motor, kami sedikit bergegas berangkat ke sana. Bergegas maksudnya, kami berangkat ke lapangan tanpa diawali dengan minum kopi terlebih dahulu.

Sekira 45 menit perjalanan, kami telah sampai di lokasi. Pukul sepuluh kurang sekian menit. Itu artinya kami belum terlambat dari jadwal yang telah disepakati. Di ruang tunggu, sambil diajak berbincang dengan Bu Tutik, narahubung kami di sana, kami disuguhi kopi. Luarbiasa nikmatnya.

Nikmat itu pula yang membuat di antara kami berpikir untuk meminum kopi atau membawa kopi itu ke ruangan Dr. Sukrisno Widyotomo, STP, M.Si. Kepala bidang Penelitian Kopi di Puslitkoka. Namun minum kopi lekas-lek

as menjadi pilihan. Tapi pilihan itu menjadi pilihan yang salah, terlebih kami berada di lembaga yang diberi wewenang untuk mengembangkan teknologi inovasi di bidang budidaya dan pengolahan untuk kopi dan kakao di Indonesia. Di setiap ruangan yang kami datangi, kopi menjadi suguhan yang sepertinya wajib. Lumayan juga, Tim Ekspedisi Kopi Miko juga bisa mabuk kopi. Hehe..

Kopi-menjadi-suguhan-wajib-bagi-kami-saat-berkunjung-ke-Puslitkoka-922x615

Tim Ekspedisi Miko saat sedang berdiskusi dengan Dr. Sukrisno Widyotomo, STP, M.Si. Kepala bidang Penelitian Kopi di Puslitkoka | © Minum Kopi
Tim Ekspedisi Miko saat sedang berdiskusi dengan Dr. Sukrisno Widyotomo, STP, M.Si. Kepala bidang Penelitian Kopi di Puslitkoka | © Minum Kopi

Lembaga ini berdiri pada 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation. Secara struktural, lembaga ini dikelola oleh Lembaga Riset Perkebunan Indonesia – Asosiasi Peneliti Perkebunan Indonesia (LRPI – APPI). Puslitkoka akan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Riset dan Teknologi untuk membuat inovasi teknologi yang bisa mengembangkan komoditas kopi dan kakao.

Karena Tim Ekspedisi Kopi Miko berada di Puslitkoka, sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk mengembangkan kopi di Indonesia. Maka kami memulai dengan mempertanyakan perbandingan produktivitas kopi di Indonesia dengan di Vietnam, sebuah negara yang luasannya jauh lebih kecl dari Indonesia, tetapi memiliki hasil panen kopi melebihi negara kita.

Dr Sukrisno membenarkan, bahwa secara produktivitas kopi, kita kalah dibanding Vietnam. Meskipun luasan tanam kopi di sana lebih kecil dari negara kita.

Vietnam walaupun belajar budidaya kopi di sini, tetapi mereka berhasil mengembangkan kopi secara masif dan dukungan pemerintah sana luarbiasa sekali untuk komoditas kopi. Dari segi metode juga berbeda, karena kopi di sana seperti dipacu untuk produksi sehingga usia produktif pohon kopi lebih pendek dibanding di Indonesia.

Lalu, kopi di Vietnam ditanam di ketinggian yang minim sehingga hanya sanggup menghasilkan jenis kopi robusta. Hal ini memberi pengaruh ke aspek ekonomi yang diperoleh oleh masyarakat di sana. Bahwa kopi Vietnam memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah dibanding Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Dr Sukrisno tidak memungkiri bahwa juga ada kelemahan cara pengolahan perkebunan kopi. Ia menyayangkan bahwa kebanyakan petani menanam kopi hanya iming-iming mendapatkan hasil ekonomi saja, tetapi minim pengetahuan budidaya kopi. Kejadian ini terjadi karena program penanaman kopi tanpa diiringi dengan pengetahuan secara benar tentang teknik budidaya kopi. Sebagai misal, petani kopi diberi bibit kopi untuk ditanam tanpa mengetahui kopi memiliki usia produktif.

Padahal ketika usia produktif kopi telah selesai, maka produktifitasnya menurun, sehingga harus diganti dengan penanaman bibit baru. Penanaman kopi baru ini sepertinya mudah. Tetapi dalam prakteknya tidak demikian, karena petani kopi harus menyiapkan perencaaan ekonomi. Saat kopi yang baru ditanam itu menunggu masa panen, petani perlu mendapatkan pendapatan lain. Sehingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari bisa tetap terpenuhi.

3

Namun, ada potensi dari kopi Indonesia yang sulit disaingi oleh negara lain. Negara ini terdiri dari pulau-pulau yang membuat tersedia beragam jenis tanah. Sedangkan karakteristik kopi dipengaruhi oleh tanah di mana pohon kopi ditanam. Itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negara penyedia kopi spesial terbanyak di dunia.

Potensi itu yang membuat Dr Sukrisno tetap optimis melihat perkembangan kopi Indonesia. Bahkan setiap daerah mempunyai potensi untuk menghasilkan kopi spesial sendiri. Kopi spesial merupakan kopi dengan karakteristik rasa yang khusus. Biasanya dimiliki oleh kopi arabika, karena kopi jenis ini mampu menyerap aroma dari lingkungan sekitar lebih baik dibanding robusta.

Idealnya, tanaman kopi arabika ditanam di ketinggian di atas 1.000 mdpl. Di ketinggian tersebut, jenis kopi arabika bisa tumbuh dengan baik dan makin rentan terserang hama. Tetapi, karena di beberapa daerah, kopi arabika bisa menghasilkan kopi yang baik maka standar penanaman kopi jenis ini diturunkan menjadi 800 mdpl.

Namun, persoalannya tidak sederhana itu. Standar tanam minimal kopi arabika banyak dilanggar oleh petani karena kopi arabika mendapatkan harga yang lebih baik di pasaran. Pagu penanaman jenis kopi itu merupakan salah satu yang diupayakan oleh Puslitkoka. Sehingga jenis kopi bisa ditanam sesuai dengan karakteristik tanah.

Di Indonesia tersendiri, lebih banyak menghasilkan kopi robusta. Sekitar 80 persen kopi yang ditanam merupakan jenis kopi robusta. Jenis kopi ini bukan berarti tidak bisa menghasilkan rasa yang baik. Jika diolah dengan proses yang benar, kopi robusta bisa juga secangkir kopi yang istimewa.

https://www.minumkopi.com/indonesia-sebagai-penghasil-kopi-spesial-terbanyak-di-dunia/