ags_sam@yahoo.com +62 87851187118
Kisah Runtuhnya Kejayaan Kopi Jawa Setelah 1,5 Abad [Repost]
October 3, 2016
2
Pabrik pengolahan kopi - VOC
Pabrik pengolahan kopi – VOC

Setelah mendominasi pasar kopi internasional sejak 1726, kopi Jawa (Java coffee) tiba-tiba lenyap hampir tak tersisa pada 1876. Runtuhnya masa kejayaan kopi Jawa selama 1,5 abad itu ternyata hanya karena masalah sepele, yaitu ketidakmampuan pemerintah kolonial Belanda mengatasi serangan jamur Hemilia vastatrix.
“Hemileia vastatrix atau hama karat daun (berwarna kuning kecoklatan menempel di daun) itu menebar kematian secara mendadak di sebagian besar perkebunan Coffea arabica di Pulau Jawa,” kata penulis buku The Road To Java Coffee, Prawoto Indarto, saat ditemui Tempo di sela acara Jagongan Ngopi Neng Solo di Pasar Gede Kota Surakarta pada Sabtu malam, 30 September 2016.

Mengutip sejumlah jurnal dari luar negeri dalam bukunya, Prawoto menuliskan Hemileia vastatrix menyebabkan Pulau Jawa pada 1880 kehilangan potensi ekspor sekitar 120.000 ton. Hancurnya industri kopi Jawa yang berbarengan dengan meningkatnya konsumsi kopi di Amerika menyebabkan harga kopi dunia melambung tinggi.
Kondisi itulah yang dimanfaatkan para petani di Brazil untuk menanam kopi secara besar-besaran. “Hanya dalam kurun 14 tahun, jumlah pohon kopi di Sao Paulo meningkat empat kali lipat. Hingga kini Brazil menjadi salah satu eksportir kopi arabika terbesar di dunia,” kata Prawoto.

Padahal, tanaman kopi di Amerika Selatan termasuk Brazil, Amerika Tengah, dan Kepulauan Karibia benihnya dari Pantai Malabar India (versi lain dari Ceylon, kini Srilanka) yang dibudidayakan Belanda di Pulau Jawa sejak akhir abad 17. Pada 1706, setelah para ahli botani di Amsterdam menyatakan kopi Jawa berkualitas tinggi, benih kopi Jawa disebarkan ke kebun-kebun botani di Eropa.

Kopi Jawa Nongkojajar
Kopi Jawa Nongkojajar 2016

Menurut Prawoto, serangan hama Hemileia vastatrix pada 1876 juga menjadi gerbang sejarah kopi robusta di Hindia Belanda, khususnya di Pulau Jawa. “Dulu kopi Jawa itu semuanya arabika. Karena arabika hancur, Belanda sempat mengganti dengan liberica (kopi dari Liberia) tapi gagal. Mulai 1900-an, Hindia Belanda berubah menjadi penghasil robusta,” kata Prawoto.
Menurut Joko Sindoro, petani kopi robusta dari Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, budidaya kopi robusta jauh lebih mudah dibandingkan kopi arabika. “Robusta bisa tumbuh di daerah berketinggian 400 – 1.000 mdpl (meter di atas permukaan laut). Sedangkan arabika itu musti di atas 1.000 mdpl, jadi proses membawa pupuk atau mengangkut hasil panennya lebih susah,” kata Joko kepada Tempo di sela sesi sarasehan Jagongan Ngopi Neng Solo.
Jagongan Ngopi Neng Solo diselenggarakan oleh komunitas kopisolo.com untuk memperingati hari kopi internasional yang jatuh pada 1 Oktober. Selain membedah buku The Road To Java Coffee dan mempertemukan para pegiat kopi Jawa dari berbagai daerah, Jagongan Ngopi Neng Solo juga membagikan 3.000 cangkir kopi gratis asal Jawa Timur, Tengah, dan Jawa Barat.

Repost : https://m.tempo.co/read/news/2016/10/02/108809036/kisah-runtuhnya-kejayaan-kopi-jawa-setelah-1-5-abad

Leave a Reply

2 comments

  1. Bagus sekali artikelnya. Izin pantau artikel2 lainnya

    1. thxs udah berkunjung